23 July 2015

Fosil gajah raksasa 1,5 juta tahun lalu ditemukan di Kudus


Menurut penelitian, tinggi gajah seharusnya adalah 9 meter dan panjang gajah dari ujung gading sampai ekor adalah 13 meter
Balibangol news,- Fosil gajah raksasa berhasil ditemukan di Pegunungan Patiayam Kudus. Fosil yang ditemukan tersebut berupa gading dan bagian gajah lainnya. Gading gajah yang ditemukan mempunyai panjang 3,5 meter, tapi panjang tersebut bukan merupakan panjang yang utuh. Diperkirakan panjang gading sebenarnya adalah 4 meter.

Saat berkunjung ke Museum Situs Patiayam, Selasa (21/7), kami mendapat keterangan bahwa fosil gading dan bagian gajah lainnya tersebut ditemukan pada 4 Maret 2008 oleh Karmijan. Ketika itu, Karmijan sedang menggarap ladang Perhutani di Gunung Sluprit Patiayam, Jekulo, Kudus. Fosil gading gajah yang ditemukan mempunyai panjang 3,5 meter dengan diamater pangkal 17 cm dan garis lingkar 55 cm. Fosil tersebut kemudian berhasil di konservasi oleh Museum Ronggawarsito, Jawa Tengah.

Ari Mustaqim (29), salah satu penjaga museum menyebutkan jika diperkirakan panjang gading sebenarnya adalah 4 meter. Jika panjang gading 4 meter, menurut penelitian, tinggi gajah seharusnya adalah 9 meter dan panjang gajah dari ujung gading sampai ekor adalah 13 meter. Wow!

"Menurut ahli arkeologi Museum Geologi Bandung, gading gajah ini merupakan yang terbesar yang pernah mereka temui, sehingga diperkirakan ukuran gajahnya juga terbesar," kata Taqim kepada brilio.net di sela-sela menjaga museum.

Yang istimewa lagi, lanjut Taqim, jika fosil lain biasanya ditemukan terpisah, maka fosil gading dan bagian gajah lainnya yang biasa disebut warga setempat dengan balung buto ini ditemukan dalam satu ekavasi atau satu tempat.

Selain menyimpan temuan fosil gajah, museum ini ternyata juga menyimpan temuan fosil manusia dan alat-alat batu budaya pada masa itu serta fosil 15 hewan lainnya. Di antara fosil hewan yang telah ditemukan di Pegunungan Patiayam adalah moluska, ikan hiu, penyu, buaya, harimau, badak, babi, kuda sungai, gajah, kerbau, banteng, rusa dan beberapa hewan biota laut lainnya. Penemuan hewan darat dan laut di Patiayam menunjukkan perubahan lingkungan di Patiayam dari lautan ke daratan.


sumber

22 July 2015

Kapolri : Polri Menetapkan 4 Orang Tersangka, Kerusuhan Tolikara


Balibangol news, Jakarta – Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jendral Badrodin Haiti saat berada di gedung Kejaksaan Agung, Rabu (22/7/2015) mengatakan Polri masih memeriksa puluhan orang saksi. Saksi-saksi itu menceritakan kronologis hingga terjadinya penyerangan saat umat muslim melaksanakan shalat Idul fitri 1436 H.

Para saksi ini berasal dari berbagai unsur masyarakat dihadirkan kepolisian untuk menemukan titik terang ihwal bagaimana penyerangan terjadi.

Polri sudah menetapkan empat tersangka / dalang kasus kerusuhan di Karubaga, Kabupaten Tolikara, propinsi Papua. Semua tersangka masih dalam pemeriksaan Polda Papua.
"Perihal namanya, belum bisa saya jelaskan. Nanti saja, karena masih dalam pemeriksaan.Yang paling utama, ada empat tersangka," kata Badrodin di gedung Kejaksaan Agung.

Saat ini yang terpenting mendinginkan situasi yang masih panas di Tolikara. Juga melakukan antisipasi agar kejadian serupa tidak terjadi di daerah lain. Apalagi, kata Badrodin, di Yogyakarta mulai ada indikasi perusakan tempat ibadah.
"Saya sudah perintahkan jajaran polda setempat untuk berkoordinasi dengan para pemimpin umat beragama, baik muslim maupun non muslim, terutama ormas Islam, Mari kita jaga kerukunan antar-umat agama, karena kasus ini baru kali ini terjadi" pungkas Kapolri Jendral (Pol) Badrodin Haiti.


Bupati Tolikara bisa kena sangsi

Ditempat lain Soedarmo mengatakan menurut undang-undang Pemerintah Daerah (Pemda) kejadian Tolikara adalah tanggung jawab Bupati,(red. Usman wanambe)" ujar Direktur Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri di Gedung Kemendagri, Rabu (22/7/2015).

Meskipun diatur dalam Undang-undang, Soedarmo mengatakan peraturan pemerintah turunan beleid tersebut belum selesai dirancang, sehingga aturan teknis terkait dengan sanksi belum ada.

Dikatakan, terjadinya kasus ini bisa menjadi masukan untuk memberlakukan sanksi pencopotan bagi kepala daerah yang lalai mengamankan wilayahnya mengakibatkan terjadi bentrok antar umat beragama.

"Saya setuju Peraturan pemerintah (PP) nanti ada pencopotan supaya sense of responsibilty-nya bagus," ujar Soedarmo Direktur Jendral politik dan pemerintahan umum ,di kantor Kementrian Dalam Negeri.(didi)

Kenapa para pejabat di Indonesia sering pakai peci?


Selain punya banyak nilai historis, peci juga sudah disebut sebagai identitas bangsa.

Balibangol news,- Mengamati gaya berpakaian pejabat tidak kalah menarik. Setidaknya bisa menjadi hiburan tersendiri dibandingkan perdebatan politik yang bikin sakit hati. Ditambah lagi, gaya busana dari pejabat atau petinggi politik di Indonesia menunjukkan makna tertentu. Salah satunya adalah aksesoris yang dering dipakai dalam berbagai acara, yakni peci.

Benda hitam penutup kepala ini bukan sembarang asesoris di kalangan pejabat. Ternyata banyak nilai historis di balik pemakaian peci. Selain itu, peci juga disebut sebagai identitas bangsa. Bagaimana ini bisa terjadi? Inilah beberepa penjelasan kenapa peci bukan sekedar aksesoris di mata pejabat yang berhasil dihimpun dari berbagai sumber.

Dirunut dari sejarahnya, peci bukan berasal dari kebudayaan Indonesia. Peci ini dibawa oleh bangsa Arab ke semenanjung Melayu sekitar abad 13 M. Lantas kenapa menjadi ikon budaya Indonesia?

Ceritanya adalah ketika para pendiri bangsa menghadiri pertemuan Sociaal Democratische Arbeiders Partij di tahun 1913. Tokoh nasional yang menghadiri rapat tersebut adalah Tjipto Mangoenkoesoemo, Douwes Dekker, dan Ki Hadjar Dewantara. Ketiga tokoh ini menunjukkan identitas berlainan pada waktu itu.

Ki Hadjar Dewantara menggunakan topi fez dari Turki yang berwarna merah. Tjipto Mangoenkoesoemo memakai kopiah dari beludru hitam. Sedangkan Douwes Dekker sama sekali tidak menggunakan penutup kepala layaknya orang barat. Perbedaan penampilan inilah yang membuat Dr Van der Meulen kaget dengan identitas yang mereka kenakan.

Peci mulai resmi digunakan sebagai simbol negara dimulai oleh Bung Karno. Bung Karno menyatakan bahwa peci merupakan asli kepunyaan rakyat yang juga dipakai oleh pekerja-pekerja dari bangsa Melayu. Jika waktu itu mengambil blangkon sebagai simbol nasional, hal ini bisa menimbulkan politik pecah belah, karena blangkon berasal dari Jawa. Alasan lainnya adalah, jika para tokoh nasional berpakaian seperti Belanda, hal ini bisa menjauhkan dari kaum pribumi.

Jadi, jangan heran ketika beberapa pejabat sampai sekarang masih sangat sering memakai peci ya!

Ingat 'Si Kentung' film Tuyul & Mbak Yul? Kisahnya sungguh tragis


Sebelum berpulang, dia tak sanggup lagi berdiri. Untuk berpindah saja, Kentung harus bersusah payah dengan menggelundungkan badan.


Balibangol news,- Jika kamu pernah menonton sinetron Tuyul dan Mbak Yul, kamu pasti mengenal salah satu karakter bernama Si Kentung, jin paling tambun dalam sinetron tersebut. Lama tidak muncul di layar kaca, Bambang Triyono, pemeran Si Kentung menjalani kehidupan dalam kondisi terpuruk dan benar-benar miskin.

Hal itu diungkapkan oleh seorang pegawai Dinas Sosial DIY, Feriawan Agung Nugroho yang menyaksikan sendiri kondisi Bambang. Saat hendak bertugas untuk menyambangi lansia, Feri kaget bukan kepalang ketika melihat calon 'pasien'nya itu adalah mantan artis yang pernah tenar di era 90-an.

'Si Kentung' sempat tinggal di salah satu kamar kos-kosan di RT 5 RW 15, Ngangkruk, Sardonoharjo, Sleman, Yogyakarta. "Saya ke sana diantar oleh salah seorang relawan dari Forkom Lanjut Usia. Satu kamar yang menjadi terkesan sempit ukuran 3x4, sedikit bau tak sedap, saya benar-benar bertemu Bambang Triyono, pemeran Kentung," tulis Feri yang dikutip dari Kaskus, Minggu (28/6) lalu

Kondisi Kentung, menurut Feri, sangatlah memprihatinkan. Dia tak sanggup lagi berdiri. Untuk berpindah saja, Kentung harus bersusah payah dengan menggelundungkan badan. Selama 3 bulan, Bambang alias Si Kentung menghuni kos tersebut yang dibiayai oleh para relawan.

Berdasarkan cerita Kentung yang didengar Feri, kondisi yang dialaminya saat ini tidak lain karena kebiasaan berfoya-foya di masa lalu. "Ibaratkan saat ini, sehari mengeruk lima juta rupiah atau bahkan lebih, sudah biasa. Sayang, bahwa rupiah yang mengalir ke kantongnya seolah tanpa berkah. Sehari dia mendapat uang, sehari itu pun uang bisa habis tanpa sisa," imbuhnya.

Kondisi tersebut semakin parah saat Bambang mengalami kelumpuhan. Tahun 2010, dia tak lagi mampu beraktivitas secara normal. Badai kehidupan terus menerpa hidupnya, Setahun kemudian, istri Bambang menggugat cerai dirinya. Alhasil, dia pun semakin frustasi dan terpuruk. Si Kentung yang dulu berlimpah harta harus menggelandang demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Ketika seseorang sudah terpuruk seperti dia, ibarat sampah, jangankan ditolong, semisal ketemu di jalan, menoleh pun tidak. Diusir dari satu tempat ke tempat lain, akhirnya dia ditemukan kader lansia dan ditempatkan di kost sederhana ini. Makan apa adanya, kalaupun sehari hanya bisa masuk tiga sendok nasi, itu sudah alhamdulillah," kata Feri.

Sedangkan anaknya hanya sesekali mengunjunginya. Anaknya pun tak mampu berbuat banyak karena penghasilan sebagai tukang cuci piring yang tidak seberapa. "Sekarang, dia mengharap kami dari pemerintah untuk mengulurkan tangan kepadanya," kata dia.

Kisah ini ditulis Feri pada Desember 2014 silam. Namun, cerita hidup Bambang Triyono kembali menghebohkan netizen di situs komunitas Kaskus pada hari Minggu (28/6). Menurut penuturan Feri, Bambang saat ini sudah meninggal karena penyakit yang dideritanya. "Pada tanggal 27 Februari, saya mendapat kabar beliau meninggal dunia dan dibawa di Rumah Sakit Bethesda," kata Feri saat dihubungi brilio.net, Senin (29/6).

Semoga kisah hidupnya bisa menjadi pelajaran untuk kita semua.

21 July 2015

Kebijakan Pemerintah Kemandirian Pangan , Indonesia Siap Hadapi Sidang WTO Gugatan



Oleh : Didi Ronaldo
Balibangol news, -Jakarta – Masa pemerintahaan Presiden dulu , heboh skandal impor daging sapi, yang melibat oknum petinggi partai politik serta beberapa orang tersandung kasus suap impor daging, dua orang  sedang menjalani  masa tahanan, keduanya merasakan dinginya lantai tahanan yakni Achmad Fathonah serta mantan Petinggi Partai Lutfi Hasan. Uang hasil suap itu ia gunakan berfoya-foya untuk "Totil"  oknum wanita centil

Kini Indonesia siap menghadapi gugatan Amerika Serikat dan Selandia baru terkait kebijakan impor daging.

Saat konferensi Pers Ahmad Junaidi Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian (Kemtan) mengatakan pihaknya sudah menyiapkan argumen atas tuntutan Amerika Serikat (AS) dan Selandia Baru terkait kebijakan impor daging Indonesia.

Pemerintah saat ini sedang mempersiapkan panel dan personel yang akan berangkat ke sidang WTO terkait kasus impor daging tersebut. Junaidi menjelaskan, gugatan atas Indonesia tersebut melanjutkan gugatan yang sudah berlangsung sejak tahun 2013. Menurut dia, status gugatan tersebut saat ini terdaftar dalam sidang WTO dengan Nomor 477 dan 478.

Kronologisnya Amerika Serikat dan Selandia Baru pada tahun 2013 mengadukan Indonesia atas larangan impor secondary cut dari seluruh negara. Kebijakan tesebut ditetapkan dengan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 2/2015 tentang perubahan atas Permentan Nomor 139/2014 tentang Pemasukan Karkas, Daging, dan Jeroan dalam Negeri. Selain itu, Indonesia juga diprotes atas kebijakan pengaturan impor hortikultura.

"AS dan Selandia Baru menggugat pembangunan pangan serta pemberdayaan petani dan peternak Indonesia. Semangat kebijakan pemerintah kabinet kerja sekarang adalah kemandirian pangan. Menteri pertanian dan menteri perdagangan siap melawan gugatan itu. Panel sudah dibentuk, sekarang sedang proses penunjukan lawyers internasional. usai lebaran tim kami berangkat. menghadapi gugatan itu. Kami sudah siapkan argumen," kata Junaidi, usai jumpa pers tentang ketersediaan daging selama Ramadhan 2015 di kantor kementrian Pertanian. (didi)

20 July 2015

Hendra Dinatha : 'Negara harus Hadir dalam Penyelesaian Tragedi Tolikara'



Balibangol news- Tragedi di Tolikara, Papua, sudah jelas mengusik ketenangan berbangsa dan bernegara, karena  Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini adalah majemuk, plural dan kebaragaman. Tentunya toleransi antara anak bangsa apapun latar belakang dan kepercayaannya harus dijunjung-tinggi oleh semua anak bangsa tanpa terkecuali. Kerukunan kita antar ummat, antar anak bangsa siapapun dan apapun latar belakangnya adalah wajib dipelihara oleh semua anak bangsa Indonesia, tanpa terkecuali.

Atas Tragedi Tolikara Juli 2015 yang menciderai rasa Bhinneka Tunggal Ika bangsa Indonesia, Hendra Dinatha, Wakil Sekjen Generasi Muda Pembangunan Indonesia (GMPI)  menyayangkan bahwa penyerangan dan pembakaran tersebut merupakan tindakan yang brutal dan intoleransi atau tidak toleran antar anak bangsa sehingga mencederai hubungan  antar manusia yang nota bene sesama anak bangsa Indonesia, Nusantara tercinta yang damai dalam lingkup Pancasila.

"Saya prihatin, saya tidak tega hanya diam tidak berkata apa-apa, maka itu melalui media yang independen dan sejuk ini, marilah kita bangun kebersamaan dalam keberagaman, saya minta  pada aparat penegak hukum dan keadilan untuk menindak tegas para pelaku penyerangan dan pembakaran serta usut tuntas aktor intelektual di belakangnya, ini penting pada prinsipnya," tegas Hendra Dinatha (20/7) di Jakarta.

Selaku warga negara yang merdeka, Hendra juga menyerukan kepada pemerintah untuk segera memproses secara hukum para pelaku penyerangan dan pembakaran sesuai undang-undang yang berlaku.

"Saya masih percaya bahwa Negara ini harus hadir menjamin secara penuh keselamatan warga negaranya  dalam beribadah sesuai dengan pasal 29 ayat 2  UUD 1945. Saya yakin, kita semua bersaudara, kita semua ingin damai dan ingin hidup rukun aman dan tenteram, saya yakin kita semua Pancasilais sejati, marilah kita cintai sesama manusia Indonesia, jangan ada kerusuhan yang berbasis SARA, malulah kita pada Dunia, malu," pungkas Hendra Dinatha, (20/7) di Jakarta.





Sumber _ http://www.pewarta-indonesia.com/berita/nasional/16783-hendra-dinatha--negara-harus-hadir-dalam-penyelesaian-tragedi-tolikara.html

Indonesia paling banyak koperasi tapi tidak efisien


Balibangol news,- Pengamat perkoperasian Suroto menyebut Indonesia merupakan negara pemilik badan hukum koperasi terbanyak di dunia atau rata-rata 3 koperasi formal di setiap desa.

"Kita ini menjadi pemilik koperasi berbadan hukum terbanyak di dunia dan setiap desa berarti rata-rata ada 3 koperasi formal," kata Suroto di Jakarta, Senin.

Menurut Ketua Asosiasi Kader Sosio Ekonomi Strategis (Akses) itu, kondisi tersebut jelas tidak sehat karena menunjukkan daya saing koperasi yang lemah baik ditinjau dari skala ekonomi maupun tawar menawar politis.

Ia berpendapat jalan keluar bagi persoalan itu salah satunya melalui pembubaran koperasi "papan nama" lalu koperasi yang tersisa dikonsolidasikan.

"Selama ini koperasi-koperasi papan nama itu hanya dijadikan sebagai alat untuk memutar-mutar dana bantuan sosial dan juga dana-dana karitatif lainnya. Ini sudah tidak sehat. Kalau ditertibkan maka idealnya memang satu desa satu," katanya.

Bahkan jika memungkinkan, kata dia, koperasi yang ada perlu dikonsolidasikan lagi agar mereka terus merger dan semakin besar skala usahanya.

"Setelah upaya pembubaran, sebaiknya dilakukan upaya konsolidasi dan termasuk di dalamnya memperbaiki citra koperasi dengan cara menertibkan rentenir yang berbaju koperasi yang selama ini turut merusak citra koperasi," katanya.

Selain itu, ia menyoroti pentingnya fungsi pengawasan terhadap koperasi agar semakin efektif dan untuk langkah awal penertiban dan konsolidasi ini sebaiknya diberikan anggaran yang memadai agar segera dapat diselesaikan.

Ia menegaskan, proses akumulasi puluhan tahun koperasi papan nama ini harus segera diakhiri agar program pemerintah menjadi jelas targetnya.

"Koperasi kita kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) hanya 2 persen. Ini sungguh merupakan tamparan keras karena kita selalu menyebut sistem ekonomi kita adalah sistem demokrasi ekonomi dan sebut koperasi adalah sebagai soko guru dan bangun perusahaan yang paling sesuai dengan demokrasi. Tapi praktik lapangannya ekonomi kita sangat kapitalistik," katanya.

Sebaiknya kata dia, Kementerian Koperasi dan UKM itu juga segera diberikan wewenang lebih untuk mengkonsolidasikan fungsi lintas kementerian strategis terkait agar koperasi dapat segera meningkatkan kontribusinya terhadap perekonomian nasional.

Jika hal itu dilakukan, janji Pemerintah,menurunkan Rasio Gini atau kesenjangan ekonomi hingga 0,30 menurut target Nawacita dan 0,36 menurut target Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJMN) tahun 2019 dapat tercapai.

"Sebaiknya koperasi jangan terus diabaikan dan disepelekan arti pentingnya bagi pembangunan karena secara sistem memang lahir untuk mencapai suatu keadilan distributif. Bahkan lebih dari itu berfungsi untuk mempertinggi modal sosial karena fungsinya mempertinggi kerja sama," katanya.

sumber

Mecingklak, Permainan Anak SD Tahun 90an Yang Habis Dimakan Jaman

Foto mecingklak Balibangolnews,- Mecingklak merupakan sebuah permainan menggunakan batu krikil yang dilakukan oleh satu orang atau le...