9 March 2016

SHALAT GERHANA, PECALANG ANTAR UMAT MUSLIM KE MASJID

160309i

Shalat gerhana yang dilakukan umat muslim terkait peristiwa Gerhana Matahari Total yang melintasi wilayah Indonesia berjalan dengan lancar. Pecalang dilibatkan untuk mengantarkan umat menuju Masjid.

160309hBalibangolnews Singaraja, Peristiwa gerhana matahari total yang ditandai oleh umat muslim melakukan shalat gerhana, Rabu (9/3/2016) berjalan dengan lancar. Umat muslim yang melakukan shalat menuju masjid terdekat diantar oleh pecalang, seperti terlihat saat sejumlah warga menuju masjid Nurul Mubin di Kelurahan Kampung Singaraja.
Pelaksanaan shalat gerhana yang bertepatan dengan Hari Suci Nyepi tersebut dilakukan umat muslim di Kabupaten Buleleng, namun dalam pelaksanaan kegiatan itu tidak dilakukan secara terpusat dan tanpa mengunakan pengeras suara.
Ketua I Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Buleleng, Haji Muhammad Maksum Amin, mengatakan rangkaian kegiatan shalat gerhana bertepatan dengan Hari Suci Nyepi, namun dari kesepakatan pada Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) dilakukan menyesuaikan dengan situasi dan kondisi.
“Tidak semua melakukan, karena shalat gerhana itu merupakan hukumnya adalah sunnah, sunnah Mu’akkad, tapi di Kabupaten Buleleng tetap akan mengadakan shalat gerhana sekalipun pada hari itu, pada hari nyepi, tapi dengan secara toleransi antar umat beragama kami tetap akan menghargai saudara kita yang sedang melaksanakan hari raya nyepi,” ujar Maksum Amin.
Shalat gerhana dilakukan secara tersebar pada sejumlah masjid saat berlangsungnya gerhana matahari total, warga muslim-pun saat menuju masjid dan meninggalkan masjid diantar sejumlah pecalang, bahkan terlihat kerukunan beragama diantara umat muslim dan hindu yang tetap memegang sebuah toleransi beragama. “Tidak tidak dipusatkan di satu tempat, kami dari MUI menyarankan dilaksanakan di masing-masing tempat supaya tidak menganggu aktivitas saudara kita yang sedang melaksanakan hari raya Nyepi,” tegas Maksum Amin.
Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana saat melepas ogoh-ogoh di malam pengerupukan berharap dengan shalat gerhana yang dilakukan umat muslim mampu meningkatkan toleransi beragama di Buleleng, namun langkah antisipasi harus tetap dilakukan oleh pecalang sebagai ujung tombak pengamanan saat Hari Suci Nyepi.
“Nyepi kali ini agak berbeda karena nyepi kali ini dibarengi dengan gerhana matahari dan ada kesepakatan di Forum Komunikasi Umat Beragama bahwa, diberikan sembahyang ke masjid terdekat dan saya harapkan pecalang untuk mengawal ini dengan baik agar tidak liar jadi, kadang-kadang disusupi, memancing ini kan tidak baik, harapan saya sih, apa yang telah disepakati, toleransi yang diberikan dijaga dengan baik bersama-sama” tegas Agus Suradnyana.
Shalat gerhana yang dilaksanakan umat muslim sebagai salah satu cara mensyukuri nikmat khususnya fenomena alam gerhana matahari yang sangat langka terjadi sebagai bentuk kekuasaan Tuhan sejalan dengan Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, bahkan terdapat suatu riwayat yang menceritakan bahwa telah tejadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam yaitu pada wafatnya Ibrahim (Putra Nabi). Saat itu, berdasarkan riwayat tersebut orang-orang kemudian berkata bahwa terjadinya gerhana matahari karena wafatnya Ibrahim atau putra Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam. Atas adanya anggapan tersebut, maka kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda “sesungguhnya matahari dan bulan itu tidak gerhana karena wafatnya seseorang dan tidak karena hidupnya seseorang. Maka apabila kalian melihat (kejadian gerhana) maka shalatlah dan berdoalah kepada Allah.”
Sementara, umat hindu dengan peristiwa gerhana matahari total yang bertepatan dengan nyepi, merupakan hal yang istimewa, dimana fenomena alam itu terjadi bertepatan dengan umat hindu melakukan Catur Berata Penyepian, bahkan umat hindu sendiri melakukan persembahyangan khusus terkait Gerhana Matahari itu dengan menghaturkan Guru Piduka yang dilakukan saat rangkaian pelaksanaan pecaruan di masing-masing desa pakraman atau sehari sebelum peristiwa gerhana matahari tersebut.(sumber)

Was This Post Helpful:
0 votes, 0 avg. rating

7 March 2016

ABG Nyopet Di Pasar Kidul Bangli, NyarIs Babak Belur Di Gruduk Masa


Balibangol news BANGLI,  – Seorang Anak Baru Gede (ABG) yang berparas cantik  berinisial KY (15) asal Tamanbali, Bangli nyaris babak belur setelah digebuki massa. Pasalnya, ABG tersebut tertangkap tangan melakukan aksi pencopetan di Pasar Kidul Bangli, Senin (07/03/2016) pagi. Beruntung salah seoarang warga bersama petugas segera mengamankan pelaku dari amukan massa ke posko terdekat untuk selanjutnya dibawa ke Polsek Bangli. Ironisnya, dari hasil interogasi petugas diketahui selama ini gadis yang masih dibawah umur tersebut telah melakukan aksi pencopetan sebanyak enam kali untuk berfoya-foya.

Sesuai informasi yang dihimpun di Mapolsek Bangli, kasus tersebut terjadi saat suasana pasar Kidul dalam kondisi ramai jelang Nyepi sekitar pukul 08.30 wita. Korbannya Ni Made Murtini (35) asal lingkungan Pulung, Kelurahan Bebalang, Bangli yang saat itu sedang berbelanja membeli rempah-rempah di pasar terbesar di Bangli itu. Modusnya, saat korban sibuk berbelanja tersebut, pelaku mendekati dan memepet korbannya dan turut berpura-pura hendak membeli. Namun, saat korban lengah, tangan pelaku merogoh tas jinjing korban dan langsung mengambil dompet korban yang didalamnya berisi sejumlah uang dan barang berharga lainnya.

Hanya saja, aksinya tersebut terlihat oleh salah seoarang pedagang lainnya dan langsung meneriakinya copet. “Saat itu salah seoarang pedagang yang meneriaki, dompet saya telah diambil. Saat saya lihat, dompet saya sudah dipegang oleh pelaku,” ungkap Murtini. Selanjutnya, pelaku karena takut langsung mengembalikan dompet tersebut ke korban dan kabur. Hanya saja, karena sudah diteriaki copet, sejumlah massa  dilokasi langsung menjadikan pelaku bulan-bulanan. Pelaku bahkan sempat ditarik-tarik oleh ratusan massa dan sempat menerima tendangan oleh sejumlah warga.

Beruntung, saat itu salah seoarang warga menghentikan tindak main hakim sendiri itu. Selanjutnya, pelaku digiring ke posko polisi terdekat dan kemudian diamankan ke Polsek Bangli. Saat diinterogasi polisi, awalnya pelaku tidak mau mengakui perbuatannya. Namun setelah ditunjukkan barang bukti yang telah diambil, pelaku tidak bisa mengelak lagi. “Dari hasil interogasi, pelaku bahkan mengakui sudah melakukan aksi pencopetan sebanyak enam kali. Hasilnya, dia pergunakan untuk berbagai keperluan sehari-hari dan sebagian untuk foya-foya,” ungkap sumber di Mapolsek Bangli.

Secara terpisah Kapolsek Bangli Kompol. Dewa Gede Mahaputra saat dikonfirmasi membenarkan adanya kasus tersebut. “Pelaku memang sempat kita amankan ke Polsek Bangli. Tetap karena usianya masih dibawah umur, kasusnya sudah kita limpahkan ke unit PPA Polres Bangli untuk penyelidikan lebih lanjut,” pungkasnya.

Sumber-suaradewata.com

Dijilat Anjing, Bocah 9 Tahun Meninggal Akibat Penyakit Rabies


Balibangol news, KLUNGKUNG – Kasus penyakit Rabies kembali merenggut nyawa bocah berusia 9 tahun bernama AA Gde Yoga Arimbawa asal Kahuripan Panjarangkan, Klungkung, Bali, Senin (7/3/2015).
Menurut Direkutur Rumah Sakit Umum Daerah Klungkung, I Nyoman Kesuma mengatakan, korban dinyatakan meninggal tadi pagi sekitar pukul 06.30 Wita.
Dia menerangkan, jika korban baru masuk ke UGD pada Minggu (6/3/2016) kemarin pada pukul 09.01 Wita di RSUD Klungkung. Kemudian pihak RS melakukan pemeriksaan terhadap pasien, dimana hasilnya menandakan ada gejala penyakit rabies.
“Dari sana ada kecurigaan bahwa pasien menderita rabies. Hanya saja saat digali apakah ada gigitan itu tidak jelas. Pasien dan keluarga mengaku korban ini tidak digigit anjing tapi hanya dijilat,”ungkapnya.
Pihaknya menegaskan, pengakuan korban awal hanya dijilat anjing pada lututnya. “Tapi karena gejalanya sangat menyerupai rabies maka pihak kami tetap merawat pasien sebagai pasien rabies. Sekitar pukul 10.30 Wita korban kami tempatkan diruang isolasi,”paparnya.
Sekitar pukul 19.00 Wita korban sempat berontak dan mencabut infusnya, pihak dokter yang menjaga akhirnya memberi obat penenang.
“Tadi pagi sekitar pukul 06.00 Wita korban memberontak lagi, bahkan pasien juga mengalami sesak nafas. Pada saat itu kami sudah memberikan bantuan pengobatan. Tapi sekitar pukul 06.30 Wita korban sudah tidak bernyawa,”terang Kesuma.
Pihaknya mengatakan, timbulnya gejala penyakit rabies ini diantaranya ada demam, korban sangat phobia dengan air, sinar matahari, dan paling parah adalah ketika korban berperilaku seperti anjing.
“Korban saat ini sudah dibawa pulang oleh pihak keluarganya. Dari tubuh korban memang tidak ada tanda gigitan, saat ini pihak dinas kesehatan sedang menyelidikinya, “pungkasnya.

Sumber-beritajalanan.com

Vidio, Siaran Langsung TVRI: Gerhana Matahari di Indonesia 11 Juni 1983

Balibangol news, VIDIO,- sayang bagian awal emang kurang bagus pitanya jadi kondisi gambar rada kurang ok, tapi masih bisa kelihatan. Ini siaran langsung TVRI dengan NHK Japan untuk tayangan Gerhana Matahari 11 Juni 1983 di Candi Borobudur, dulu yang pernah merasakan langsung ato melihat di TV pasti terkenang kenang karena siang hari seperti udah malam.

Ini Vidionya:



6 March 2016

Seni Topeng Bali ,Dari Hiburan Hingga Ritual


Di Bali Topeng bukan hanya sekadar seni tari belaka, tetapi topeng juga menjadi pelengkap dalam ritual keagamaan karena itu sering juga disebut dengan topeng wali.
Sumber foto-www.mascasia.fr
Balibangol news, BUDAYA,- Siapa yang tidak mengenal Topeng?. Di Bali Topeng dipentaskan hhampir di setiap Pura pada saat odalanTopeng berarti penutup muka yang terbuat dari kayu, kertas, kain atau bahan lainnya dengan bentuk yang berbeda-beda. Dari yang berbentuk wajah dewa-dewi, manusia, binatang, setan dan lain-lainnya. Di Bali topeng juga adalah suatu bentuk dramatari yang semua pelakunya mengenakan topeng dengan cerita yang bersumber pada cerita sejarah yang lebih dikenal dengan Babad.
Dalam membawakan peran-peran yang dimainkan, para penari memakai topeng penuh (yang menutup seluruh muka penari), topeng setengah (yang menutup hanya sebagian muka dari dahi hingga rahang atas termasuk yang hanya menutup bagian dahi dan hidung). Semua tokoh yang mengenakan topeng penuh tidak perlu berdialog langsung, sedangkan semua tokoh yang memakai topeng setengah memakai dialog berbahasa kawi dan Bali .
Tokoh-tokoh utama yang terdapat dalam dramatari Topeng terdiri dari Pangelembar (topeng Keras dan topeng tua), Panasar (Kelihan – yang lebih tua, dan Cenikan yang lebih kecil), Ratu (Dalem dan Patih) dan Bondres (rakyat). Drama tari topeng yang ada di Bali, yang terus berjalan dan berkembang, berubah sejalan dengan perubahan nilai nilai artistik, sosial, dan kultural dari masyarakat Bali .
Kemampuannya beradaptasi dengan berbagai perubahan yang terjadi dalam lingkungan masyarakat pendukungnya telah membuat drama tari topeng ini hingga kini mendapat tempat yang cukup istimewa di hati masyarakat, khususnya Hindu yang ada di Bali maupun orang Bali yang ada di luar Bali .
Sebelumnya perlu kiranya diketahui, seni pertunjukan mempergunakan topeng di Bali sudah berkembang sejak zaman pemerintahan raja Jaya Pangus sekitar abad X. Dalam kumpulan prasasti Jaya Pangus ini sudah ditemui beberapa istilah-istilah seperti: atapukan yang artinya pertunjukan yang mempergunakan alat-alat penutup muka (topeng).

BACA JUGA JENIS-JENIS TOPENG
Selain itu, di Bali ditemukan beberapa buah prasasti yang memuat tentang kesenian topeng, salah satunya adalah prasasti Bebetin (tahun 896 Masehi), yang menyebutkan pertunjukan topeng sebagai atapukan. Di samping itu keberadaan topeng juga disebutkan dalam prasasti Blantih sekiktar tahun 1059 masehi.
Selain itu, ada juga prasasti tentang petopengan yaitu prasasti Ularan Plasraya. Dalam prasasti itu diceritakan tentang Pemerintahan Dalem Waturenggong di Gelgel antara tahun 1460-1550. pada masa itu Dalem Waturenggong berniat  menaklukan Kerajaan Blambangan. Dikirimlah pasukan tentara di bawah pimpinan Ki Patih Ularan dan ditemani I Gusti Jelantik Pesimpangan. Dalam pertempuran tersebut Sri Dalem Juru, Raja Blambangan, kepalanya dapat dipenggal dan Blambangan dapat ditaklukan. Sebagai bukti telah menaklukan Blambangan dirampaslah beberapa barang, di antaranya dua buah gong, satu keropang Wayang Gambuh dan satu peti topeng.
Pada masa pemerintahan Wirya Sirikan, sekitar tahun 1879 oleh I Gusti Jelantik, topeng yang jumlahnya 21 buah itu dipindahkan   ke Blahbatuh, kini topeng-topeng itu disimpan di Pura Penataran Topeng yang berada di Blahbatuh, Gianyar. Dari 21 buah topeng tersebut, enam di antaranya yang memakai canggem sebagai alat memegang, topeng itulah yang diperkirakan berasal dari Jawa, karena sebagin besar topeng Jawa menggunakan canggem.
Di Bali selain topeng yang di Blahbatuh, juga terdapat juga topeng sakral di daerah Ketewel, Sukawati, yaitu topeng Sang Hyang atau Sang Hyang Topeng. Topeng ini bermuka wanita sehingga disebut Topeng Widyadari atau Bidadari,. Topeng itu ada tujuh buah, yaitu topeng Widyadari Kendran, Nilotama, Gagar Mayang, Sulasih, Gudita, Supraba dan Aminaka.
Di Desa Trunyan terdapat  Topeng Brutuk yang sering disebut Batara Brutuk. Di Desa Trunyan sebuah pura bernama Pura Pancering Jagat. Di pura itu terdapat sebuah patung besar tanpa busana setinggi empat meter yang bernama Bhatara Datonta atau Batara Ratu Pancering Jagat. Batara Ratu Pancering Jagat memiliki sebanyak 21 orang unen-unen dalam bentuk topeng yang dinamakan topeng Brutuk. Wajah topeng-topeng itu menyerupai topeng-topeng primitif, matanya besar dengan warna putih atau coklat, diduga peninggalan kebudayaan pra-Hindu Bali . Topeng-topeng Brutuk itu ditarikan oleh anggota sekaa taruna. Sebelum menari para taruna harus melewati proses sakralisasi selama 42 hari.


Selain itu, terdapat jugaBarong yang merupakan topeng yang berwujud binatang, mitologi yang memiliki kekuatan gaib dan dijadikan pelindung masyarakat Bali. Barong Ket juga dianggap sebagai manifestasi dari Banaspati Raja, atau Raja Hutan. Orang Bali menganggap seekor Singa sebagai Raja Hutan yang paling dahsyat. Dalam pementasan tari Barong, figur Barong Ket dijadikan lambang kemenangan dan Rangda merupakan pihak yang kalah. Namun di luar konteks seni pergelaran, kedua figur itu disandingkan sebagai pelindung masyarakat. Selain Barong Ket, di Bali terdapat beberapa jenis Barong lainnya, seperti Barong Bangkal, Barong Gajah, Barong Macan, dan Barong Asu.
Ada juga Barong Landung dari segi wujudnya berbeda dengan barong-barong lainnya di Bali. Barong Landung diduga manifestasi dari perkawinan Dalem Balingkang (Jaya Pangus) dengan Putri Cina bernama Kang Ching Wie. Perkawinan itu tidak direstui oleh Bhatari Batur, yang kemudian mempralina keduanya. Sebagai tonggak peringatan, maka keduanya diwujudkan ke dalam pratima kecil dan disembah di Pura Batur. Sebagai wujud besarnya, kedua pratima itu dibuat dalam bentuk Barong Landung, laki-laki dan perempuan, Jero Gede dan Jero Luh.
Barong Dingkling atau Wayang Wong disebut juga Barong Blas-blasan. Ciri khas penampilan Barong Dingkling adalah meloncat-loncat dan kemudian berpisah-pisah satu sama lain untuk mencari sasarannya. Barong Dingkling yang tapelnya berupa topeng-topeng wanara seperti Sugriwa, Anoman, Anggada, Menda, dan Jumawan, merupakan tari penolak bala dan hama. Setiap tokoh itu mengusir hama-penyakit. Para wanara yang meloncat-loncat keriangan, dengan bunyi-bunyi ngore seperti monyet, menggetarkan pohon-pohon kelapa pertanda ritual pembersihan dilakukan.
Ada juga topeng Rangda, nama lain dari Calonarang — janda dari Desa Girah (Dirah) yang mempraktekkan desti (ilmu hitam) berwujud sebuah topeng yang sangat mengerikan. Biasanya menggambarkan sifat kejahatan dalam dramatari Calonarang. Rangda sebagai sungsungan (sakral) hampir tak pernah dipisahkan keberadaannya dengan Barong Ket. Keduanya distanakan sebagai makhluk dahsyat yang bisa memberi perlindungan kepada masyarakat penyungsungnya. Hampir setiap desa di Bali memiliki kedua tokoh ini yang sebagai penjaga keselamatan desa.
Yang terakhir adalah Topeng Babad yang menggunakan babad sebagai sumber lakonnya. Ada dua jenis Topeng Babad yaitu Topeng Pajegan dan Topeng Panca. Topeng Pajegan dimainkan seorang penari (aktor) yang sendirian menarikan 8-12 tokoh berbeda dalam sebuah pementasan. Topeng Pajegan disebut juga Topeng Wali, karena ia berfungsi untuk sarana upacara keagamaan dan dipentaskan sejajar dengan Wayang Lemah. Sedangkan Topeng Panca dipentaskan oleh lima orang penari. (sumber)

Beberapa Jenis Tari Topeng Di Bali

Foto-Dokumentasi
Balibangol news, BUDAYA,- Bali dikenal dengan budaya yang begitu banyak dan salah satunya adalah kesenian tari Topeng yang biasa dimainkan masyarakat Bali.

BERIKUT  JENIS-JENIS TOPENG BALI: 
Topeng Pajegan
Kata pajegan mengacu kepada kegiatan pedesaan masyarakat Bali agraris, yang kini bisa diterjemahkan dengan ”memborong”. Penari Topeng Pajegan memborong semua peran yang ada di dalam cerita. Yang ada hanya seorang pemain, dan cerita berkembang dengan seutuhnya lewat satu pemain. Pada intinya, Topeng Pajegan adalah ritual yang mengiringi upacara keagamaan Hindu dalam budaya Bali yang diakhiri dengan Topeng Sidakarya sebagai puncak dari ritual itu.
Oleh karena itu, penari Topeng Pajegan adalah orang yang tinggi tingkatan spiritualnya, karena dia harus memberikan pencerahan kepada masyarakat (penonton) apa inti upacara itu, apa tujuan upacara, dan apa akibatnya apabila upacara ini tidak dilaksanakan. Seorang penari Topeng Pajegan adalah seorang pendharma wacana yang piawai, sekaligus memiliki kemampuan bercerita seperti seorang dalang.
Topeng Pajegan, topeng yang ditarikan oleh seorang aktor dengan memborong semua tugas-tugas yang terdapat di dalam topeng. Di dalam Topeng Pajegan ada sebuah topeng yang mutlak harus ada yakni topeng Sidakarya. Oleh karena demikian eratnya hubungan topeng pajegan ini dengan upacara keagamaan maka topeng inipun disebut topeng Wali.
Sebuah tradisi yadnya di Bali ada yang disebut kutukan Dalem Sidakarya. Inti kutukan ini adalah seberapa besar pun yadnya yang dibuat, seberapa banyak pun banten yang dihaturkan, tidak akan ada artinya jika belum mendapat ”restu” dari Dalem Sidakarya. Banten bisa menjadi sampah yang berbau busuk, dan yadnya bisa tidak sampai pada tujuannya. Karena itu diperlukan pamuput karya di luar sulinggih, yakni pementasan Topeng Sidakarya.

Topeng Sidakarya

Legenda di balik pementasan Topeng Sidakarya. Kisahnya konon terjadi pada pemerintahan Dalem Waturenggong di Gelgel yang akan mengadakan upacara besar di Pura Besakih. Tiba-tiba ada seorang Brahmana walaka—bukan pendeta—dari Keling, Madura mengaku akan mencari saudaranya yang tiada lain adalah Dalem Waturenggong. Sayangnya, karena perjalanan yang jauh dan berhari-hari, Pandita Keling sampai di Gelgel dalam keadaan kumal, bajunya compang-camping, mirip seorang pengemis. Dalam pakaian seperti itu, tak ada seorang pun staf kerajaan yang percaya kalau tamu tak diundang itu saudara  Dalem Waturenggong. seorang pandita. Maka, Brahmana Keling diusir dengan paksa, setelah sebelumnya sempat dihina.
Brahmana Keling pergi dengan dendam. Di sebuah tempat yang sepi, dia melakukan perlawanan dengan mengucapkan mantra yang isinya yadnya yang diselenggarakan oleh Dalem Waturenggong tidak akan membawa berkah, malahan menimbulkan bencana. Semua banten menjadi busuk dan tikus-tikus pun mengerubungi banten busuk itu. Tikus semakin banyak sampai merusak tanaman petani. Rakyat menjadi resah.
Raja Waturenggong dalam samadinya tahu siapa yang mengutuk upacara besarnya itu. Dia lantas mengutus Arya Tangkas untuk menjemput Brahmana Keling yang masih tinggal di tempat sepi (suung) itu. Raja meminta maaf dan memohon kepada Brahmana Keling agar karya yang dilaksanakan menjadi sida(diberkahi). Jika mampu maka Brahmana Keling akan diakui sebagai saudara dan diberi gelar Dalem Sidakarya.
Selanjutnya, Dalem Waturenggong menitahkan agar setiap upacara atau karya yang dilaksanakan orang Bali menggunakan Topeng Sidakarya sebagai pemuput upacara atau mohon jatu karya ke Pura Dalem Sidakarya, berupa catur wija dan panca taru.
Topeng Panca
Drama tari topeng yang ditarikan oleh 5 ( lima ) orang penari. Topeng ini timbul di Denpasar sekitar tahun 1915. Topeng Panca dipentaskan oleh lima orang penari. Topeng ini merupakan perkembangan dari Topeng Pajegan. Topeng Panca ini berkembang menjadi Topeng Sapta, dengan tambahan penari Putri dan Condong.
Topeng Prembon
Dramatari topeng yang sudah dikombinasikan dengan unsur drama tari Bali lainnya (biasanya dari arja) namun strukturnya patopengannya masih tetap dominan. Topeng Prembon yang menampilkan tokoh-tokoh campuran yang diambil dari Dramatari Topeng Panca dan beberapa dari dramatari Arja dan Topeng Bondres, seni pertunjukan topeng yang masih relatif muda yang lebih mengutamakan penampilan tokoh-tokoh lucu untuk menyajikan humor-humor yang segar.
Prembon (per-imbuh-an) adalah dramatari campuran dari berbagai unsur dramatari klasik Bali yang ada. Sesungguhnya setiap dramatari yang diciptakan dengan cara menggabungkan berbagai unsur-unsur tari Bali yang telah ada dapat disebut sebagai Prembon. Prembon muncul pada zaman revolusi, tepatnya tahun 1942, Prembon lahir dari penggabungan seni Topeng dan Arja. Lakon yang ditampilkan pada umunnya bersumber dari cerita Babad dan semi sejarah lainnya sebagaimana halnya dramatari. Di daerah Gianyar, Prembon yang banyak memasukan unsur-unsur Arja dan Gambuh biasa disebut Tetantrian.(sumber)

5 March 2016

Kapal Rafelia II , Nahkoda Masih Hilang, 4 Penumpang Ditemukan Tewas



Balibangol news, JEMBRANA, – Pasca tengelamnya KMP Rafelia ii, empat korban meninggal berhasil di evakuasi dari dalam bangkai kapal, Sabtu, (5/3/2016). Sedangkan satu orang masih dinyatakan hilang yakni Bambang, Nahkoda KMP Rafelia II. Korban selamat sampai saat ini sebanyak 76 orang.

Pencarian korban kapal tenggelam KMP Rafelia II terus dilakukan tim gabungan. Dalam pencarian hari ini tim berhasil menemukan empat korban tewas dari lima korban dinyatan hilang. Keempat korban meninggal tersebut bernama Ramlan bayi 18 bulan dan ibunya Masturoh (25). Satu korban lagi yakni Tia Agus Miharja, diduga sopir truk, serta Puji Purnomo mualim kapal. “tim berhasil menemukan empat korban meninggal dunia, keempat kroban dievakuasi dari dalam kapal. Keempat korban ini merupakan lima dari korban yang sempat dinyatakan hilang,” Uelas Nyoman Daelon, Kepala Syahbandar Gilimanuk.

Ditambahkan Dealon, satu orang yang belum ditemukan yakni Bambang, sang Nahkoda Kapal Rafelia ii. Keempat kroban ditemukan siang tadi setelah dilakukan penyelaman di sekitar lokasi tenggelamya kapal. Pencarian akan terus dilakukan sampai batas waktu yang belum ditentukan.

Sebelumnya KMP Rafelia II, dinyatakan tengelam sekitar pukul 14.15 wita atau 13.15 Wib di dekat dermaga LCT di Pelabuhan Ketapang. KMP Rafelia ii yang berangkat dari pelabuaan gilimanuk mengangkut 27 kendaraan berbagai jenis dengan jumlah penumpang termasuk abk kapal dan sopir serta kondekturnya sebanyak 81 orang. Dari jumlah tersebut 76 orang berhasil ditemukan selamat, empat meninggal dunia dan satu orang masih hilang.

Pasca tenggelamnya kapal, proses penyebebrangan Gilimanuk Ketapang atau sebaliknya berjalan normal. “Aktifitas penyebrangan tidak terganggu dengan tenggelamnya kapal KMP rafelia II, masih berjalan seperti biasa,”ungkap Sugeng Purwono, Manajer Usaha ASDP Gilimanuk.(sumber)

Mecingklak, Permainan Anak SD Tahun 90an Yang Habis Dimakan Jaman

Foto mecingklak Balibangolnews,- Mecingklak merupakan sebuah permainan menggunakan batu krikil yang dilakukan oleh satu orang atau le...