26 August 2016

Pelayanan Buruk, Netizen Kecam Pelayanan Puskesmas Kuta Utara

Pelayanan Puskesmas Kuta Utara yang dinilai buruk oleh warga. 

Balibangol news, BADUNG,- Menempati Gedung megah, Puskesmas Kuta Utara, Badung, pelayanannya malah terbilang buruk. Bahkan, unit gawat darurat (UGD) di sana sering menolak pasien. Netizen Bali ramai-ramai mengecam pelayanan puskesmas di daerah pariwisata itu.

Buruknya pelayanan Puskesmas yang berdiri di wilayah Banjar Kesambi itu diungkapkan Oka Suarjana. Netizen ini mengatakan pada 19 Agustus dirinya membawa anak mantan Lurah Kerobokan yang mengalami pendarahan Pukul 23.00 WITA. Tapi, pelayanan tidak ramah satpam langsung dia terima.

Tak ada pelayanan atau perawat yang mendatangi pasien dalam kondisi parah itu di Puskesmas yang membuka layananan UGG 24 jam. Begitu juga ketika keluarga pasien meminta tolong untuk mengantarkan pasien dengan ambulance ke RSUD Kapal juga dijawab dengan ketus. "Sopirnya nggak ada, langsung saja ke RS Kapal," tulis Suarjana.

Antarayani Darma, netizen lainnya juga mengaku mendapat pelayanan buruk di Puskesmas Kuta Utara. Tulis dia, saat anaknya sakit panas dia langsung membawa ke Puskesmas itu. Tapi, perawat di sana langsung bilang tidak menerima pasien panas, yang diterima hanya pasien kecelakaan lalu lintas. Darma yang tidak mau ribut karena memikirkan keselamatan anaknya langsung membawa si anak ke RSAD.

Sumber, http://www.semetonnews.com/post/read/2423/meme-ratu-sakit-parah-ditolak-puskesmas-kuta-utara

22 August 2016

Dana BKK Desa Songan 163 Juta Tebar Bau ‘Amis’

Ilustrasi

Balibangol news, BANGLI,– Pengelolaan Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Desa Songan, Kintamani, Bangli belakangan menebar bau ‘amis’.  Pasalnya, bantuan yang dikelola sejak lima tahun terakhir diduga sarat dengan penyelewengan.

Dari informasi yang dihimpun di lapangan, Senin (22/08/2016) kasus dugaan korupsi dana bantuan yang dikucurkan dari Pemprov Bali setiap tahun ini, telah bergulir sejak sebulan terakhir. Bahkan, kasus ini juga sudah mulai dicium dan diselidiki oleh Unit Tipikor Polres Bangli. Dari informasi tersebut, diketahui dana yang ditilep oknum mantan prajuru desa adat Songan berinisial Ketut K tersebut mencapai ratusan juta. Modusnya, dengan membuat SPJ (Surat Pertanggungjawaban) fiktif.

Menurut sumber terpercaya media ini, dari lima tahun terakhir total bantuan BKK yang diselewengkan oknum mantan prajuru desa tersebut mencapai 163 juta. “Dana BKK itu diselewengkan dengan cara membuat SPJ fiktif. Pembangunan yang sudah ada justru dimasukkan ke dalam SPJ itu,” ungkap sumber ini.

Disebutkan, kasus penyelewengan dana BKK tersebut dilakukan dengan cara dikrediit setiap tahun hingga akhirnya selama lima tahun total kerugian yang ditimbulkan mencapai Rp 163 juta. “Sejak awal bulan ini, mantan prajuru itu sudah beberapa kali saya lihat bolak-balik ke Polres Bangli karena diperiksa untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya,” ungkap sumber ini sembari mewanti-wanti namanya tidak dimediakan.

Secara terpisah, KBO. Reskrim Polres Bangli Iptu I Ketut Purnawan seijin Kapolres Bangli, AKBP. Danang Beny Kusprihandono, membenarkan adanya kasus dugaan korupsi dana BKK desa Songan tersebut. “Saat ini kasusnya masih lidik,” ungkapnya singkat.

Sumber, suaradewata.com

Pembunuhan Polisi Kuta, Sudarsa Dikeroyok Empat Orang Tak Dikenal

David James Taylor tetap menolak dituding sebagai pembunuh Aipda I Wayan Sudarsa. 

Balibangol news, DENPASAR, - David James Taylor tetap kekeh pada pendiriannya tidak membunuh Aipda Wayan Sudarsa pada 17 Agustus 2016. Saat diperiksa petugas, pria asal Inggris itu tetap menyatakan bahwa Sudarsa dikeroyok empat orang di Pantai Kuta, tepatnya depan Pullman Hotel, Legian, Kuta, Badung.

Bahkan lewat kuasa hukumnya Haposan Sihombing, versi David, dirinya malah berniat menolong korban tapi malah digigit. Waktu itu korban ditemukan sudah bersimbah darah dengan posisi badan telungkup di pasir. "Klien kami menemukan seseorang di pasir, dan tidak mengakui pembunuhan," kata Haposan Sihombing, Minggu (21/08/2016).

Musabab hilangnya dompet milik pacar David, yakni Sara Connor asal Australia. Versi David, saat Sara mabuk mereka bedua pacaran di pinggir pantai. Ketika itu Sara bercerita dompetnya hilang. Keduanya berpencar mencari, dan tak beberapa lama bertemu kembali. Ketika itu, Sara sudah terlihat menangis. "Saat itu Sara bilang polisi jelek, polisi tidak baik,  mendorong saya ke pasir dan menindih saya. Saya teriak dan ada yang membantu saya," tiru Haposan. Empat orang yang membantu Sara itulah yang mengeroyok Sudarsa hingga akhirnya meninggal dunia.(sumber)

19 August 2016

Bali United Raih Poin Penuh Lewat Sepakan Penalti Fadil Sausu


Gol Pinati Fadil Menangkan Bali United atas SFC 1-0
FOTO,semetonnews.com
Pemain belakang Bali United Ahn Byung Keon (kanan) saat menghadang pemain SFC

Balibangol news,BERITA BOLA,– Gol semata wayang pemain Bali United, Fadil Sausu dari titik putih pinalti membawa timnya meraih poin penuh dari tamunya, Sriwijaya FC (SFC), pada duel sengit pekan 16 di stadion Dipta Gianyar, Jumat (19/8/2016).

Meski mendapatkan tekanan lebih dulu dari lawan, namun Bali United malah membuka keunggulan lebih dulu di menit 41, setelah memperoleh hadiah pinalti dari wasit Bahrul Ulum dari Sidoarjo.

Pinalti ini diperoleh setelah pemain SFC Wildansyah melakukan hands ball, di daerah pertahananya sendiri. Kapten tim Fadil Sausu yang dipercaya sebagai eksekutor mampu melakukan eksekusi dengan baik, setelah bola hasil tendangannya mengecoh pergerakan kiper SFC, Teja Paku Alam. Gol itu ternyata sekaligus menjadi gol kemenangan ‘Serdadu Tridatu.

Usai duel ketat itu, manajer sekaligus pelatih kepala Bali United Indra Sjafri mengutarakan, jika hasil positif itu menunjukkan jika identitas permainan dalam dua duel sebelumnya hilang telah kembali.

“Inilah yang saya inginkan. Hasil positif saat melawan tim-tim papan atas. Masuknya kembali tiga pemain kami Ahn Byung Keon, Gede Sukadana dan Syakir Sulaiman usai cedera, memberikan tambahan suntikan kekuatan,” tandasnya. 

Di lain pihak, arsitek SFC Widodo C. Putra mengaku jika pinalti itu tidak perlu terjadi jika para pemainnya lebih tenang, dalam menghadapi bola-bola liar di daerah pertahanan depan gawangnya sendiri. Namun semua itu bakal dibalas saat berlaga di markasnya di putaran II nantinya.(sumber)

Dua Bule Diduga Pelaku Pembunuh Polisi Ditangkap


Gile Bro...James Masih Bisa Tersenyum
David James Taylor asal Inggris bersama kekasihnya Sarrah Conno ditangkap petugas.
Balibangol news,DENPASAR,- Dua pelaku pembunuhan Aipda I Wayan Sudarsa akhirnya menyerahkan diri di Konjen Australia, Renon, Denpasar, Jumat (19/08/2016) Pukul 16.30 WITA. David James Taylor asal Inggris bersama kekasihnya Sarrah Connor. James sendiri terlihat masih bisa tersenyum meski di borgol petugas.


Kapolda Bali Irjen Pol.Sugeng Priyanto yang langsung melihat tersangka, menyatakan keduanya masih diperiksa. " Kita sudah melakukan pemeriksaan terhadap sembilan orang saksi, dari hasil pemeriksaan saksi barang bukti yang kita temukan di TKP mengarah kepada kedua orang ini, kemudian kita lakukan pencarian terhadap dua orang ini," papar dia di Mapolresta Denpasar. Awalnya keduanya menginap di homestay di Kubu Kauh Beach Inn, selanjutnya ke Kedonganan. Terakhir meminta perlindungan ke Konjen Australia.

Sementara itu Tim kedokteran forensik RS Sanglah akhirnya melakukan pemeriksaan dalam (otopsi) pada tubuh Jenazah Wayan Sudarsa, pada hari Jumat (19/8/2016) sekitar pukul 09.45. Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan selama dua jam itu terkuak bahwa kematian Sudarsa disebabkan oleh kekerasan benda tumpul di bagian kepala dengan jumlah 17 luka dari 42 titik luka yang dialaminya. 

Dikatakan, dr. Dudut Rustyadi, selaku Kepala Instalasi Kedokteran Forensik RS Sanglah,  pukulan tersebut sontak saja membuat pembengkakan di otak korban, yang kemudian menekan pusat pernafasannya. "Saya belum bisa memastikan jenis bendanya. Namun sudah pasti itu berasal dari kekerasan benda tumpul," ujarnya saat ditemui di halaman depan Instalasi Kedokteran Forensik RS Sanglah kemarin.

Lanjut Dudut, jumlah luka keseluruhan yang ditemukan oleh pihaknya yaitu sebanyak 42 titik. Luka-luka itu terdiri dari luka robek, luka memar, dan juga luka lecet, yang  tersebar di daerah wajah, kepala dan tangan korban. Melihat banyaknya luka yang ditemukan, Dudut memperkirakan jika pelaku yang menyerang korban berjumlah lebih lebih dari satu orang.
"Pada jenasah juga terdapat luka tangkisan pada tangan kanan dan kiri, bisa korban sempat melakukan perlawanan. Dan pelakunya pasti lebih dari satu orang, lukanya saja sebanyak itu. Dikuatkan lagi dengan ditemukannya bekas cengkraman tangan juga," ujar Dudut.


Saat disinggung apakah korban sempat mengonsumsi minuman beralkohol? Dudut menjawab, pihaknya masih melakukan uji laboratorium untuk mengetahui hal tersebut. "Belum bisa dipastikan. Kami masih melakukan pemeriksaan toksikologi," ucapnya. " waktu kematiannya belum bisa saya sampaikan. Nanti saja kalau pelakunya sudah tertangkap," imbuhnya.

Sumber, semetonnews.com

15 August 2016

Setelah Di Kecam, Ketua Waria Angkat Bicara

 Ketua Wargas Mami Sisca Sena, (baju hitam bertopi) 

Balibangol news, BULELENG,- Setelah dikecam dalam Lomba Gerak Jalan Tingkat reamaja Putri Di Buleleng Karena Pakaian, Ketua Wargas Mengadakan Jumpa Pers, dalam jumpa persnya, Minggu (14/8), di Balai Lingkungan Tegal Mawar, Kelurahan Banjar Bali, Buleleng Mengungkapkan Pakaian minim, sindiran kepada sejumlah siswa yang mulai mengalami degradasi moral.


Kelompok Waria (wanita pria) dan Gay Singaraja  (Wargas) Buleleng, menerima banyak kecaman dari sejumlah nettizen di media sosial (medsos). Sejumlah netizen menilai tindakan Wargas berkostum SMA seksi saat lomba gerak jalan dewasa putri, Kamis (11/8) lalu, untuk peringatan HUT ke-71 Kemerdekaan RI, melecehkan dunia pendidikan.

Ketua Wargas Buleleng Sisca Sena Dharma menggelar jumpa pers kepada sejumlah awak media di Balai Banjar Lingkungan Tegal Mawar, Kelurahan Banjar Bali, Kecamatan/Kabupaten Buleleng, Minggu (14/8) siang. Ia mengatakan, Wargas sebelumnya telah menyiapkan sedikit teaterikal bertema pendidikan di garis start. Tetapi hal tersebut urung dilaksanakan karena Sisca mengalami kram, dan akhirnya 17 rekan waria mengikuti gerak jalan seperti peserta lainnya.

Terkait seragam SMA ukuran sangat minim hingga mengundang kecaman di medsos, mami Sisca menjelaskan bahwa hal tersebut untuk menyesuaikan dengan tema yang diangkat dalam peringatan HUT RI tahun ini, yakni pendidikan. Ia yang juga merupakan konselor HIV Aids di Buleleng tersebut mengaku ingin menggambarkan situasi kelulusan anak-anak SMA sekarang. Salah satunya dengan mencorat-coret seragam yang digunakan. “Padahal kami sudah siapkan teaternya, sedikit tentang cerita kelulusan anak-anak zaman sekarang,” ujar dia. Pakaian minim juga merupakan sindiran yang ditujukan kepada sejumlah siswa yang mulai mengalami degradasi moral. Selain itu, untuk menghibur masyarakat Buleleng.

Ia mejelaskan dari tercetusnya ide tersebut pada Juli 2016 saat melihat anak-anak SMA merayakan kelulusannya dan tidak ada niat sedikitpun untuk melecehkan dunia pendidikan. Apalagi dalam penampilannya tersebut menitipkan pesan agar pergeseran-pergeseran tingkah laku dengan perayaan kelulusan yang kurang tepat tersebut tidak lagi dilakukan.

Kisruh yang mempertentangkan pakaian yang dipakai Wargas, mami Sisca pun berharap kepada masyarakat untuk menghentikan perseteruannya. Pihaknya pun mengaku tidak pernah merasa dendam dengan haters (para pembenci) mereka di medsos. Bahkan hal tersebut dijadikan sebuah cambuk untuk terus berkarya dan berinovasi membangun Buleleng. “Kami juga mohon maaf apabila ada yang kurang berkenan, tetapi masyarakat yang sayang Wargas cukupkan sampai disini perseteruannya. Karena tidak akan menghasilkan sesuatu yang baik, hanya perpecahan,” kata dia.

Acara jumpa pers juga diramaikan oleh sejumlah warga Buleleng ke balai lingkungan itu. Salah satu warga setempat Wayan Santika menilai, Wargas selama bergaul di wilayahnya baik-baik saja. Bahkan mereka banyak melahirkan pemikiran dan kegiatan kreatif. “Mereka baik-baik saja, bahkan lebih kreatif dan peduli dari warga biasa. Dari dulu mereka juga menghibur masyarakat Buleleng, jadi jangan terlalu dipermasalahkan,” harap dia.

Sumber, nusabali.com

14 August 2016

Pakaian Super Mini, Kostum Gerak Jalan Wargas Buleleng Tuai Kecaman


Kadisdik Buleleng mengatakan jika dilihat dari nilai pendidikan memang penampilan menggunakan pakaian SMA yang minim kurang mendidik dan kurang tepat.

Penampilan grup Wargas dalam lomba gerak jalan remaja putri HUT RI ke 71 di Buleleng, Kamis (11/8)

Balibangol news, BULELENG,-Semarak penyambutan HUT Kemerdekaan RI ke 71 di Buleleng diwarnai aksi pro dan kontra terkait penampilan pleton gerak jalan Waria dan Gay Singaraja (Wargas) pada lomba gerak jalan tingkat dewasa putri yang dilaksanakan, Kamis (11/8) lalu. Penampilan mereka yang menggunakan seragam SMA dengan ukuran supermini mengundang berbagai komentar, dari memuji hingga kecaman. Silang pendapat tentang aksi gerak jalan Wargas itu terutama terjadi di media sosial.

Seperti tampak pada akun facebook milik anggota DPRD Provinsi Bali asal dapil Buleleng, Kadek Setiawan. Dia menyatakan ketidak setujuannya atas kostjum yang digunakan oleh Wargas. Dalam statusnya yang ditulis, Jumat (12/8) malam dan ditujukan kepada Gede Suyasa, Kepala Dinas Pendidikan Buleleng menilai pemakaian seragam sekolah dengan ukuran yang sangat mini oleh Wargas dianggap melecehkan. Pihaknya juga khawatir dengan nasib generasi muda setelah melihat penampilan Wargas.

Namun ketika dikonfirmasi via telepon, Sabtu (13/8) sore kemarin, Setiawan menolak untuk berkomentar banyak. "Ya silahkan dilihat di wall saya saja, semuanya juga sudah tau, biar tidak diperuncing lagi. Saya minta masalah ini di-close (tutup) saja," katanya singkat.

Kepala Dinas Pendidikan Buleleng, Gede Suyasa mengatakan tidak memiliki kewenangan untuk menindak lanjuti hal tersebut. Karena panitia penyelenggara kegiatan adalah KONI. Meski demikian Suyasa mengaku telah berkoordinasi dengan KONI, dalam pelaksanaan selanjutnya untuk lebih selektif, terutama dari pakaian peserta yang kini menjadi poin permasalahan yang diperdebatkan masyarakat luas. Jika dilihat dari nilai pendidikan memang penampilan menggunakan pakaian SMA yang minim, memang kurang mendidik dan kurang tepat digunakan. "Apalagi penontonnya kebanyakan anak-anak dan pelajar," ungkapnya.

Sedangkan Ketua KONI Buleleng, Nyoman Artha Wijaya yang dikonfirmasi terpisah mengaku sudah mengetahui permasalahan tersebut. Pada intinya Artha menyebutkan KONI Buleleng sebagai panitia penyelenggara hanya memberikan ruang kepada sejumlah partisipan untuk meramaikan peringatan HUT RI ke 71 di Buleleng. Termasuk Wargas yang tidak pernah absen setiap tahunnya menghibur masyarakat Buleleng, termasuk Komunitas On On dan barisan ibu Persit Kodim 1609/Buleleng yang berpartisipasi dalam lomba gerak jalan dewasa putri.

Terkait dengan penampilan Wargas yang menuai kecaman dari sejumlah pengguna media sosial, menurutnya hal tersebut di luar konteks kepanitiaan. "Kalau ada spontanitas atau kelakuan yang berlebihan yang mungkin memang sifat mereka begitu. Itu di luar konteks kami," tegasnya. Namun dengan hal tersebut KONI Buleleng tidak menutup mata. Bahkan ke depannya akan dilakukan komunikasi khusus dengan Wargas jika mereka tahun depan turun kembali meramaikan HUT RI.

Sementara itu Ketua Wargas Buleleng, Sisca Sena mengaku tidak menyangka hal ini  akan jadi polemik. Sisca mengaku hanya ingin mempersembahkan yang terbaik untuk masyarakat Buleleng. Penggunaan seragam sekolah SMA juga merupakan pendukung idenya untuk mengangkat tema pendidikan. "Kami minta maaf jika penampilan kami kurang berkenan. Lebih lengkapnya besok (hari ini) ya mami jelasin di jumpa pers," ungkap dia.

Sumber, nusabali.com

Mecingklak, Permainan Anak SD Tahun 90an Yang Habis Dimakan Jaman

Foto mecingklak Balibangolnews,- Mecingklak merupakan sebuah permainan menggunakan batu krikil yang dilakukan oleh satu orang atau le...