4 January 2016

Menelisik Sejarah Lontar Calonarang


Balibangol news, BUDAYA,- Kisah Calonarang awalnya ditulis di naskah daun lontar (tidak diketahui siapa penulisnya) dengan aksara Bali Kuna. Jumlahnya empat naskah, asing-masing bernomor Godex Oriental 4561, 4562, 5279 dan 5387 (lihat Catalogus Juynboll II. P. 300-301; Soewito Santoso 1975; 11-12).

Meskipun aksaranya Bali Kuna, tetapi bahasanya Kawi atau Jawa Kuna. Naskah yang termuda no. 4561, Beberapa bagian dari naskah 4562-5279 dan 5287 tidak lengkap sehingga dengan tiga naskah ini dapat saling melengkapi. Sebenarnya naskah no. 5279 dan 5287 merupakan satu naskah; naskah no. 5279 berisi ceritera bagian depan, sedangkan no. 5387 berisi ceritera bagian belakang. Naskah tertua no. 5279 berangka tahun 1462 Saka (1540 M). Semua naskah tersebut disimpan di Perpustakaan Koninklijk Instituut voor Taal – Land – en Volkenkunde van Ned. Indies di Leiden, Belanda.

Naskah Calon Arang pernah diterbitkan dan diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda oleh Prof. Dr. Poerbatjaraka (lihat “De Calon Arang” dalam BKI 82. 1926: 110-180) dan pada 1975 diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Dr. Soewito santoso (lihat “Calon Arang Si Janda Dari Girah”, Balai Pustaka 1975). Uraian di bawah ini disarikan dari tulisan Dr. Soewito Santoso tersebut.

Ringkasan kisah dalam naskah tersebut terdiri atas dua bagian:
1.Tentang Calon Arang,
2.Tentang pembagian wilayah kerajaan Airlangga kepada dua puteranya.

Dan yang akan kita bahas adalah yang pertama yaitu kisah CalonArang

Raja Airlangga (1006-1042 M) memerintah di Jawa Timur sejak 1021 M sesuai dengan isi prasati Pucangan (Calcutta). Pusat kerajaan Airlangga berpindah-pindah karena diserang oleh musuh. Prasasti Terep (1032 M) menyebutkan raja Airlangga lari dari istananya di Watan Mas ke Patakan karena serangan musuh. Prasasti tidak menyebutkan bahwa keraton Airlangga ada di Daha, tetapi naskah Calon Arang ini menyebutkan keraton Airlangga ada di Daha (Kediri).

Pada masa itulah hidup seorang janda yang sangat sakti bernama Dayu Datu dari Desa Girah yaitu Desa pesisir termasuk wilayah Kerajaan Kediri, yang ahli ilmu sihir dan mendirikan sebuah padepokan sihir. Dayu Datu inilah yang kita kenal sebagai Calonarang.
Calon Arang menuliskan semua ilmu sihirnya kedalam sebuah "Kitab", dan kitab sihir inilah yang dalam kisah "dicuri" atau diamankan oleh Mpu Bharadah, yang akhirnya berhasil mengalahkan Calon Arang.

Tidak jelas keberadaan kitab sihir tersebut saat ini, tetapi beberapa orang murid Calon Arang (yang telah mempelajari sebagian ilmu sihir calon arang), melarikan diri ke pulau Bali. Di Bali mereka mengajarkan dan melestarikan sebagian ilmu yang mereka pelajari dari calon arang, dan ilmu itu sekarang kita kenal dengan nama Leak. Oleh karena itulah kisah calon arang ini sangat dekat dengan adat masarakat hindu Bali sehingga calon arang di klaim sebagai orang Bali. Perlu diketahui juga bahwa pada masa itu Bali juga berada dalam kekuasaan Airlangga, dan diperintah oleh adik dari Airlangga sendiri yang bernama Anak Wungsu.

Yang menarik adalah pada masa itu, agama yang populer adalah agama Budha aliran Tantrayana. Tantrayana mengajarkan cara pintas menuju Moksa. Upacara yang dilakukan antara lain menari-nari di atas kuburan dengan iringan musik (instrumen kangsi dan kemanak) sambil minum darah dan makan daging mayat yang dilakukan pada malam hari bertelanjang badan. Ajaran ini kemudian juga dianut oleh raja Kertanegara (1268-1292 M) dari Singasari. Dengan cara demikian terjadilah pertemuan jiwa antara pelaku upacara dengan dewanya (lihat juga naskah Tantu Panggelaran disertasi dari Th. Pigeud 1924). Meskipun Ajaran Tantra dimasudkan untuk kebaikan bukan kejahatan, tapi diyakini Calon Arang juga melakukan ritual yang serupa yang dia lakukan untuk menyembah/memohon pada Btari Durga, yang notabene adalah salah satu dewi agama hindu.

Lebih menarik lagi fakta yang diketahui bahwa Mpu Bharada beragama Budha, sedangkan muridnya, yaitu raja Airlangga beragama Hindu.


Sel
Sumber(anehdidunia.com)

Bersihkan Mala, Raina Dilukat



Balibangol news, BANGLI, -  Pande Ketut Raina Murdia Putri mengikuti upacara Malukat di Griya Bauddha Taman Guhya Samaja, Bangli, pada Redite Paing Gumbreg, Minggu (3/12). -IST
Pande Ketut Raina Murdia Putri, 15, asal Banjar/Kelurahan Kawan, Kecamatan Bangli, yang sempat pergi dari rumah tanpa pamit, menjalani ritual malukat pada Redite Paing  Gumbreg, Minggu (3/1), di Griya Bauddha Taman Guhya Samaja di Banjar Griya Bangli.

Pande Putu Meidiari, 31, kakak kandung Raina, menuturkan, upacara Malukat terhadap adiknya berdasarkan petunjuk sulinggih. “Nggih, tujuannya memang membersihkan hal-hal mala (kotor) karena kejadian yang dialami adik tiyang (saya),”  ucap Putu Meidiari didampingi suaminya, I Nyoman Bayu Trisna. Ditemui di rumahnya di kompleks perumahan LC Subak Uma Bukal Bangli, Putu Meidiari berharap kondisi adiknya kian stabil setelah melaksanakan panglukatan.

Sebelumnya Raina terlihat shock ketika tiba di rumah setelah ditemukan pada 25 Desember 2015. Dia lebih banyak diam. Apalagi sehari-hari Raina dikenal sebagai remaja yang tidak terlalu suka banyak bicara. “Adik saya memang agak pendiam,” lanjut Putu Meidiari.

Namun belakangan kondisi Raina berangsur-angsur pulih. Raina sudah mau bincang-bincang dengan keluarga, khususnya orangtua dan saudara-saudaranya. Karenanya, agar stabil secara sekala-niskala, atas petunjuk sulinggih dilakukan upacara malukat terhadap  Raina. Upacara malukat dilaksanakan di Griya Bauddha Taman Guhya Samaja’ bersaranakan pokok tirta panglukatan dan pebayuhan. “Saya berharap kejadian yang seperti yang dialami adik saya tidak terulang,” kata Putu Meidiari.

Sebelumnya Pande Ketut Raina Murdia Putri kabur dari rumahnya karena teriming-imingi pekerjaan mengajar bahasa Inggris di Jakarta oleh seseorang yang dikenal lewat media sosial. Karena tertarik, Raina berangkat ke Jakarta naik bus. Untuk keperluan tersebut, dia mengambil uang ibunya Rp 1,5 juta. Namun Raina tak sampai ke Jakarta.

Dia nyasar ke Bandung. Orang yang berjanji memberikan pekerjaan tak ada yang menjemputnya, walau sudah dihubungi. Raina kemudian balik pulang ke Bali. Namun tiba di Surabaya uangnya habis. Uang tersebut hasil penjualan ponsel miliknya di Bandung seharga Rp 1,3 juta. Keluarganya kemudian menjemput Raina setelah dihubungi pada 24 Desember 2015 malam. “Langsung kami berangkat malam itu juga,” ucap Putu Meidiari. Akhirnya Raina ditemukan di Terminal Bungurasih Surabaya.

Sumber-(nusabali.com)

Ini Urutan Pulau Terbaik Dunia,Pulau Bali Jadi Nomor Dua Terbaik di Dunia, Pertama di Asia


Bali menjadi pulau terindah nomor dua di dunia.

Foto by luwihbali.com
Balibangol news,- Keindahan pulau Bali sudah termasyur di seluruh dunia. Alami pantai dipadu dengan kultur masyarakatnya, membuat pulau Bali masih terpilih sebagai salah satu pulau terbaik di dunia.



Untuk kesekian kali, pembaca majalah Travel + Leisure memilih Bali sebagai pulau terbaik kedua di dunia tahun 2015. Bali juga terpilih sebagai pulau terbaik di Asia.

Sementara peringkat pertama World’s Best Awards, masih didominasi oleh pulau-pulau Galapagosdi Equador.

Meski terletak jauh 600 mil di arah barat Amerika Selatan, Galapagos dengan pasir putih, flora dan fauna yang masih terjaga, mampu memikat wisatawan dunia berkunjung ke sana.

Untuk tahun 2015, skor  Bali unggul tipis atas  Maldives, Tasmania, dan unggul jauh atas pulau Hawai. Berikut peringkat pulau terbaik di dunia:

1.   Galápagos Islands-Equador
2.   Bali - Indonesia
3.   Maldives
4.   Tasmania- Australia
5.   Santorini - Yunani
6.   Moorea - French Polynesia
7.   Maui - Hawaii
8.   Kauai - Hawaii
9.   Great Barrier Reef - Australia
10.  Malta

Sedangkan urutan pulau terbaik di Asia:

1.   Bali - Indonesia
2.   Maldives
3.   Phuket-Thailand.
Sumber(jawapost.com)

Selamat Dari Selfi Maut , WNA China Kembali Kunjungi Tanah Lot



Balibangol news, TABANAN – Selamat dari maut karena sempat terjatuh dari tebing setinggi 15 meter saat selfie di DTW Tanah Lot, Kamis (31/12/2015) lalu, Zeng Fang (58) mengunjungi kantor Manajemen Operasional DTW Tanah Lot bersama suami serta travel agentnya, Minggu (03/01/2016). Maksud kedatangannya ingin bertemu langsung dengan pihak pengelola khususnya Manager Operasional, Ketut Toya Adnyana dan petugas Lifeguard DTW Tanah Lot, dan ingin mengucapkan terima kasih sekaligus memohon maaf atas peristiwa kemarin. Beliau mengucapkan terima kasih atas kesigapan petugas lifeguard dalam proses evakuasi dirinya yang berjalan cepat dan lancar sehingga dirinya cepat ditemukan.
Pada kesempatan itu, dia juga memohon maaf karena tidak mengindahkan rambu-rambu larangan dan himbauan petugas lapangan yang sebelumnya sudah memperingatkan untuk tidak mendekat ke tebing tersebut. “Saya ingin berterima kasih kepada pihak pengelola khususnya bapak pimpinan dan lifeguard DTW Tanah Lot, karena telah sigap dan tanggap dalam proses evakuasi saya, ujarnya dalam bahasa mandarin yang didampingi penerjemah. “Sekaligus saya juga mohon maaf ke bapak dan teman-teman di lapangan, karena saya tidak mengindahkan rambu larangan dan himbauan dari petugas sebelumnya. Sehingga saya akhirnya membuat semua pihak menjadi repot atas peristiwa ini”, tambahnya. Pada kesempatan itu juga, dia menyerahkan penghargaan kepada Lifeguard DTW Tanah Lot berupa selembar kain dengan tulisan china dengan makna ucapan “terima kasih atas keberanian menyelamatkan orang lain tanpa memperdulikan nyawa sendiri”. Berkali-kali Feng Fang dan suaminya memeluk dan mengucapkan terima kasih kepada petugas Lifeguard DTW Tanah Lot (I Wayan Suwendra) yang telah menyelamatkan nyawanya.
Sedangkan Manager Operasional, Ketut Toya Adnyana, yang diwakili Kadiv. Humas (Putu Erawan) dalam sambutannya menyampaikan bela sungkawa atas kejadian kemarin. Beliau juga memberikan dukungan ke keluarga korban karena ini merupakan musibah yang pastinya tidak terduga sebelumnya. Padahal di lapangan semua petugas selalu bekerja berdasarkan SOP yang sudah ada dan dari segi pengamanan sudah selalu maksimal. “Kami dari pengelola berterima kasih juga atas kedatangan beliau dan keluarga ke kantor. Kami mengucapkan bela sungkawa atas musibah ini, dan kita berdoa mudah-mudahan tidak terjadi lagi peristiwa yang sama di tahun-tahun berikutnya”, katanya diplomatis. “Petugas kami di lapangan selalu bekerja berdasarkan SOP yang sudah berjalan, dan tentunya ke depannya kami akan mereview kembali hal-hal apa yang harus dilakukan untuk mencegah kejadian-kejadian seperti kemarin agar tidak terulang kembali. Tentunya dalam waktu dekat, kami akan menggelar upacara pembersihan wilayah, namun waktunya masih dibicarakan dengan pihak pengempon pura dan Badan Pengelola”, tambahnya.
Setelah mampir sebentar ke kantor operasional, rombongan tersebut mengunjungi juga lokasi kejadian yakni di Pura Batu Bolong. Di tempat tersebut, Zeng Fang dan keluarga melakukan persembahyangan berdasarkan keyakinan dan budaya Tiongkok dengan membawa buah-buahan dan bunga. Dia juga mendoakan roh temannya agar tidak bergentayangan dan mendapatkan tempat yang layak disisi Tuhan.
Sementara itu korban yang meninggal, Qi Ruiling, dalam peristiwa tersebut rencananya akan dipulangkan ke negaranya Tiongkok tepatnya di kota Wuhan sekitar tanggal 5 Januari 2016. Sekarang masih disemayamkan di RS. Sanglah sambil menunggu pihak keluarga yang akan menjemput.(sumber)

2 January 2016

Tabrak Truk Sampah, Honda CRV ini Ludes Terbakar di By Pas Sanur



Balibangol news, DENPASAR, – Mobil Honda CRV DK 416 KC yang dikendarai Ngakan Kompyang Darmawan bersama 3 orang temannya (2 perempuan, 1 laki-laki) di pagi buta, Sabtu (2/1/2016) hangus terbakar di Jalan By Ngurah Rai di KM 7, Sanur sekitar pukul 06.00 wita (lokasi dekat Karaoke Fantasy). Sebelum mobil tersebut hangus terbakar sempat menabrak truk sampah DK 9304 I yang dikendarai I Kt Suasana.

Kejadian tersebut bermula ketika truk DK 9304 I yang dikendarai I Kt Suasana yang datang dari arah Utara melaju ke Selatan. Sedangkan mobil Honda CRV DK 416 KC yang dikendarai Kompyang Darmawan berada di belakang truk.

Namun tanpa disadari Kompyang, tiba-tiba Truck DK 9304 I berbelok ke kanan hendak menyebrang balik arah melalui (U turn). Mobil Honda yang berada di belakangnya terlambat mengantisipasi kendaraan di depannya yang tiba-tiba melambat, dan mobil ini langsung mencium bagian pantat truk sampah tersebut. Entah apa penyebabnya, tiba-tiba Mobil Honda CRV terbakar dan penumpangnya berhamburan keluar.

Tidak lama kemudian petugas BPBD kota Denpasar berusaha memadamkan. Mobil ludes terbakar, seluruh penumpang dan sopir Honda CRV berhasil menyelamatkan diri dari kejadian tersebut. Namun dua penumpang Honda CRV mengalami luka cukup parah.

Supir Honda CRV Ngakan Kompiyang Darmawan mengalami luka lebam pada bagian kanan, Sunarni ekaputri (22) luka kepala luka terbuka serta Paha kanan patah, Keven (22) mengalami luka lecet pada tangan kiri dan Jesika (22) mengalami luka lecet pada bagian wajah dan patah tulang pada tangan kirinya. Sedangkan supir truk sampah tidak mengalami luka.

Kasat Lantas Polresta Denpasar, Kompol Nyoman Nuryana saat di konfirmasi membenarkan kejadian tersebut, “Mobil honda CRV DK 314 CV dengan truk angkut sampah. Pada saat truk sampah dari arah utara hendak menyebrang balik arah melalui U turn, mobil honda CRV dari arah belakang truk tiba-tiba menabrak bagian pantat truk sampah, sampai mobil CRV tersebut mengalami kebakaran,” ungkapnya.

sumber- suluhbali.co

Libur Tahun Baru, Ribuan Pengunjung Serbu Jaba Pura Tirta Sudamala, Desa Pakraman Bebalang


Sebelum Sembahyang, Wajib Malukat di Pancoran Nawa Sanga




Balibangol news, BANGLI,- Dari 15 pancoran suci di tebing jaba Pura Tirta Sudamala, beberapa di antaranya bersumber langsung dari tiga air kelebutan, masing-masing Kelebutan Toya Bulan (tempat berstananya Julit Putih), Kelebutan Toya Langse (stana Sang Hayang Taksu), dan Kele-butan Toya Penyeseh.

Bukan hanya kawasan pantai-pantai eksotik dan objek wisata favorit lainnya yang diserbu pengunjung untuk rekreasi Tahun Baru 2016, Jumat (1/1). Lokasi pemandian berisi 15 pancoran suci di jaba Pura Tirta Sudamala, Banjar Sedit, Desa Pakraman Bebalang, Kecamatan Bangli juga ramai diserbu warga dari berbagai pelosok untuk ritual malukat. Bagi yang sembahyang di pura Tirta Sudamala, mereka lebih dulu harus malukat di Pancoran dewata Nawa Sanga.

Pantauan NusaBali di lokasi, Jumat kemarin, warga dari berbagai pelosok yang didominasi krama Bali, berdatangan ke lokasi pancoran suci jaba Pura Tirta Sudamala, Desa Bakraman Bebalang, sejak pagi pukul 07.00 Wita. Mereka datang secara bergelombang, hingga jumlahnya mencapai ribuan orang sampai sore hari.

Lokasi pancuran suci Pura Tirta Sudamala ini berjarak sekitar 2 kilometer arah barat dari Jalur Utama Gianyar-Bangli kawasan Desa Bebalang. Pertigaan menuju lokasi pancoran suci berjarak sekitar 1 kilometer sebelah selatan pusat Kota Bangli.

Untuk mencapai lokasi pancoran suci jaba Pura Tirta Sudamala yang berlokasi di tebing Tukad Sangsang, pengunjung haus menyusuri jalan persawahan kawasan Banjar Sedit.
Habis melawati jalan persawahan, barulah mengikuti jalanan utama ke lokasi pancoran suci Pura Tirta Sudamala. Jalan utama ini merupakan jalanan pinggir tebing berbetoni di sela puluhan anak tangga.

Sejumlah prajuru adat dan prajuru Pura Tirta Sudamala berada di lokasi untuk memandu dan memantau pengunjung dari berbagai pelosok Bali, Jumat kemarin. Termasuk di antaranya I Ketut Suartika, salah seorang prajuru Pura Tirta Sudamala, Desa Pakraman Bebalang.

Bagi ppengunjung yang datang dengan sepeda motor, mereka dikenakan retribusi parkir Rp 1.000 per kendaraan. Sedangkan untuk kendaraan roda empat (mobil), dipungut parkir Rp 5.000 per unit. Tidak ada pungutan biaya lainnya. Tapi, prajuru setempat juga menaruh kotak dana punia. “Hanya parkir saja yang dipungut, tidak ada yang lain. Kala ada yang mau berdana punia, itu tergantung kerelaan pengunjung. Namanya saja dana punia,” tutur Ketut Suartika.

Sebagian besar pengunjung yang ditemui NusaBali mengaku mereka sengaja tangil ke pancuran suci jaba Pura Titrta Sudamala untuk ritual malukat (membersihkan kekotoran diri secara niskala). “Mumpung libur, kami sempatkan waktu malukan ke sini (Pancoran Tirta Sudamala),” ungkap I Putu Sumertana, salah seorang pengunjung asal Tabanan.

Menurut Putu Sumertana, dia tangkil ke Pancoran Tirta Sudamala bersama keluarganya. Selama ini, Sumerta bersama keluarganya memang kerap melukat ke tempat-tempat suci seperti pancoran sakral di Pura Tirta Empul, Desa Pakraman Manukaya, Kecamatan Tampaksiring, Gianyar. “Khusus ke Pancoran Tirta Sudamala ini, kami baru pertama kali malukat,” terang Sumertana.

Paparan senada juga disampaikan AA Gede Ardantya Wisnu, krama asal Bangli yang kesehariannya tinggal dan bekerja di Kota Denpasar. Menurut Gung Ardantya, dirinya sering memanfaatkan liburan bersama keliarga dengan matirtayatra sembari malukat. “Apalagi kalau liburaya pas rahina Purnama atau Tilem, kami biasanya matirtayatra,“ beber Gung Ardantya.


Pancoran suci di mana krama datang malukat itu sendiri berada di tebing bagian bawah (jaba) Pura Tirta Sudamala. Di tebing bawah ini berjejer 15 pancoran suci yang terbagi dalam tiga kelompok. Untuk kelompok pertama yang berada di tebing sisi selatan, berisi 9 pancoran dengan airnya yang jernih. Sesuai jumlahnya, kelompok ini disebut Pancoran Dewata Nawa Sanga.

Versi Ketut Suartika, 9 pancoran Dewata Nawa Sanga ini merupakan simbol anugerah dari 9 Dewa sesuai arah mata angin. “Sejak dahulu kala berjumlah 9 pancoran, makanya disebut Pancoran Dewata Nawa Sanga,” jelas Suartika.

Sedangkan 6 pancuran lagi terbagi dua kelompok yang berada di sisi utara. Ini masih dibagi dua kelompok lagi. Pertama, 3 pancoran bersumber langsung dari 3 air kelebutan. Masing-masing, Kelebutan Toya Bulan (yang diyakini sebagai tempat berstananya Julit Putih), Kelebutan Toya Langse atau Panglukatan Teja Angga Sarira (yang diyakini sebagai stananya Sang Hayang Taksu), dan Kelebutan Toya Penyeseh atau disebut Panglukatan Madu Kama. Kedua, 3 pancoran suci yakni Panglukatan Widyadara, Panglukatan Widyadari, dan Panglukatan Tirta Sudamala.

Pengunjung paling awal harus malukat dulu di pancuran 3 Toya Kelebutan ini. Habis itu, mereka bergeser ke selatan untuk mandi suci di 9 Pancoran Dewata Nawa Sanga.
Terakhir, mereka malukat di 3 pancoran suci di sebelahsebelah utaranya, masing-masing disebut Panglukatan Widyadara, Panglukatan Widyadari, dan Panglukatan Tirta Sudamala. Setelah malukat di Pancoran Tirta Sudamala, barulah pamedek boleh sembahyang ke Pura Tirta Sudamala.

Tidak sembarang orang boleh malukat di seluruh 15 pancuran suci ini. Sebab salah satu pancuran yang bersumber dari air kelebutan, yakni Kelebutan Toya Penyeseh, pantang bagi wanita hamil. Kalau wanita hamil nekat melanggar pantangan dengan melakukan Panglukatan Madu Kama di Kelebutan Toya Penyeseh ini, akibatnya bisa fatal.

Pura Tirta Sudamala yang berisi 15 pancoran suci di tebing bawah itu sendiri diempon oleh 45 kepala keluarga (KK) pangarep (penanggung jawab utama). Mereka merupakan bagian dari 100 KK krama Banjar Sedit, Desa Pakraman Bebalang. Piodalan Pura Tirta Sudamala dilaksanakan 6 bulan sekali (210 hari sistem penanggalan Bali) pada Anggara Kliwon Wuku Prangbakat.
Sumber nusabali.com

1 January 2016

Malam Tahun Baru, Kuta Membludak, Sanur Sepi Pengunjung


Balibangol news, DENPASAR – Pergantian malam tahun baru baik turis asing maupun domestik, jutaan orang penuhi pantai kuta untuk menyaksikan kembang api pada pukul 00.00 Wita, Jumat (1/01/2016).

Saat ini yang terlihat di pantai Kuta dipenuhi lautan manusia dari berbagai negara, wisatawan domestik pun juga tak kalah.

Meskipun mereka merayakan malam tahun baru ditepi pantai Kuta, banyak wisatawan yang hanya memakai baju lengan pendek. Mereka tidak merasakan hawa dinginya angin laut Pantai Kuta.

Para wisatawan ini mereka menyaksikan pergantian malam tahun baru ditemani dengan sebuah seboto bir. Salah satu wisatan Amerika, Christina mengatakan, baru pertama kali menyaksikan malam pergantian tahun di luar negeri.

“Ini malam tahun baru saya diluar negeri, dan menurut kami ini cukup menyenangkan. Baru pertama kali juga saya menyaksikan malam tahun baru ditepi pantai seperti,”katanya.

Dia berharap tahun depan bisa seperti merayakan tahun baru di Bali lagi dengan suasa yang menyenangkan.

“Saya cukup mengapresiasi malam tahun baru ini. Cukup mengesankan buat kami,”tutupnya.

Suasana pantai sanur

Semenyata itu malam pergantian tahun baru di wilayah Sanur, Denpasar terlihat sepi atau lenggang. Tidak banyak wisatawan asing yang berkeliaran dijalan sepajang sanur. Di wilayah Sanur hanya terlihat anak-anak muda dari Denpasar atau wilayah sekitarnya.

Seperti di jalan pantai matahari terbit saat ini terlihat lenggang, tidak ada satupun wisatawan asing yang terlihat berjalan kaki di area tersebut. padahal biasanya kalau siang hari daerah Sanur pun dipadati wisatawan asing.

Seperti diketahui bahwa sentra wisatawan orang asing salah satunya di wilayah Sanur. Salah satu pengunjung kafe di Sanur, Ngura Adi Pratama mengatakan, perayaan tahun baru 2016 di Sanur lebih sepi dibandingkan dengan peryaan tahun baru 2015 lalu.

“Bisa jadi semua wisatawan menyaksikan pergantian malam tahun baru di wilayah Kuta. Tapi memang saya akui tahun ini sepertinya terlihat sepi dibandingkan dengan tahun yang lalu,”katanya, di Sanur, Denpasar.

Dia mengatakan, disepanjang jalan di Sanur hanya ada orang-orang berpacaran yang menikmati kopi atau minuman lain di café-café.

“Dengan tahun ini kami berharap untuk diri saya sendiri kedepanya lebih baik lagi, dan cita-cita saya bisa tercapai,”tutupnya.(sumber)

Mecingklak, Permainan Anak SD Tahun 90an Yang Habis Dimakan Jaman

Foto mecingklak Balibangolnews,- Mecingklak merupakan sebuah permainan menggunakan batu krikil yang dilakukan oleh satu orang atau le...